Zaman Batu -Paleolitikum-




1. Paleolitikum

Paleolitikum berasal dari dua kata yaitu paleos yang artinya tua dan lithikum dari kata litos yang berarti batu, karena itu zaman Paleolitikum sering juga di sebut zaman batu tua
Zaman ini di perkirakan berlangsung pada masa pleistosen awal, yaitu pada 600.000 tahun yang lalu. Alat-alat hasil budayanya terbuat dari batu yang masih sangat kasar buatannya.
 
Bidang Sosial
  • Hidup berkelompok, yang terdiri dari 20-30 orang
  • Sudah ada pembagian kerja antara laki-laki dan wanita
  • Hidupnya masih Nomaden (Berpindah-pindah tempat)

Bidang Ekonomi
  • Berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana.
  • Hidupnya tergantung pada alam
  • Hidup Berburu penangkap ikan, dan pengumpul bahan makanan seperti buah-buahan, umbi-umbian, dan bahan makanan lainnya, menjadi sebuah kebiasaan sehari-hari mereka, berusaha mengumpulkan makanan sebanyak-banyaknya

Bidang Kepercayaan
  • Animisme dan Dinamisme
  • Menyakini adana hubungan antara orang yang telah meninggal dengan yang masih hidup
  • Kepercayaan kepada kekuatan-kekuatan alam dan penguburan mayat

Bidang Kebudayaan
  • Alat-alat yang terbuat dari batu yang masih kasar, yaitu : kapak genggam, dan kapak perimbas ( chopper )
1. Kapak Genggam
Banyak ditemukan di daerah Pacitan. Alat ini biasanya disebut “chopper” (alat penetak/pemotong)
Alat ini dinamakan kapak genggam karena alat tersebut serupa dengan kapak, tetapi tidak bertangkai dan cara mempergunakannya dengancara menggenggam. Pembuatan kapak genggam dilakukan dengan cara memangkas salah satu sisi batu sampai menajam dan sisi lainnya dibiarkan apa adanyasebagai tempat menggenggam. Kapak genggam berfungsi menggali umbi, memotong, dan menguliti binatFlakes, yaitu alat-alat kecil yang terbuat dari batu Chalcedonang.

2. Kapak Perimbas
Kapak perimbas berpungsi untuk merimbas kayu, memahat tulang dan sebagai senjata. Manusia kebudayan Pacitan adalah jenis Pithecanthropus. Alat ini juga ditemukan di Gombong (Jawa Tengah), Sukabumi (Jawa Barat), lahat, (Sumatra selatan), dan Goa Choukoutieen (Beijing). Alat ini paling banyak ditemukan di daerah Pacitan, Jawa Tengah sehingga oleh Ralp Von Koenigswald disebut kebudayan pacitan.


3. Alat-alat dari tulang binatang atau tanduk rusa
Salah satu alat peninggalan zaman paleolithikum yaitu alat dari tulang binatang. Alat-alat dari tulang ini termasuk hasil kebudayaan Ngandong. Kebanyakan alat dari tulang ini berupa alat penusuk (belati) dan ujung tombak bergerigi. Fungsi dari alat ini adalah untuk mengorek ubi dan keladi dari dalam tanah. Selain itu alat ini juga biasa digunakan sebagai alat untuk menangkap ikan.

4. Flakes
Flakes yaitu alat-alat kecil yang terbuat dari batu Chalcedon, yang dapat digunakan untuk mengupas makanan. Flakes termasuk hasil kebudayaan Ngandong sama seperti alat-alat dari tulang binatang. Kegunaan alat-alat ini pada umumnya untuk berburu, menangkap ikan, mengumpulkan ubi dan buah-buahan.
  • Sudah ada pembagian kerja antara laki-laki dan wanita, yaitu : 
  1. Wanita bertugas meramu untuk di jadikan makanan (meramu tanam-tanaman) dan mengasuh anak 
  2. Laki-laki melakukan pekerjaan kasar seperti berburu binatang
Kehidupan manusia zaman ini nomaden (hidupnya berpindah-pindah), mereka tinggal di padang rumput, goa, dan dekat dengan sumber air (sungai, laut, pantai dll) karena sumber air tersebut berfungsi sebagai :
- Sumber air minum
- Sumber makanan
- Sarana transportasi
fin
Berdasarkan daerah penemuannya maka alat-alat kebudayaan Paleolithikum tersebut dapat dikelompokan menjadi kebudayaan pacitan dan kebudayaan ngandong.

a. Kebudayaan Pacitan


Pada tahun 1935, von Koenigswald menemukan alat batu dan kapak genggam di daerah Pacitan. Kapak genggam itu berbentuk kapak tetapi tidak bertangkai. Kapak ini masih dikerjakan dengan sangat kasar dan belum dihaluskan. Para ahli menyebutkan bahwa kapak itu adalah kapak penetak. Selain di Pacitan alat-alat banyak ditemukan di Progo dan Gombong (Jawa Tengah), Sukabumi (Jawa Barat), dan Lahat (Sumatera Utara).

Alat-alat dari kebudayaan Pacitan berupa kapak genggam, kapak perimbas, kapak penetak, dan flakes. Selain di daerah Pacitan (Jawa Timur), alat-alat sejenis ini juga ditemukan di daerah Sukabumi (Jawa Barat), Perigi dan Gombong (Jawa Tengah), Tambang Sawah (Bengkulu), Lahat (Sumatra Selatan), serta di berbagai tempat lainnya seprti di Kalianda (Lampung), Cabenge (Sulawesi Selatan), Awal Bangkal (Kalimantan Selatan), Truyan (Bali), Maumere (Flores), dan Atambua (Timor). Hal ini sekaligus membuktikan proses migrasi manusia purba memang menyebar hampir ke seluruh kepulauan indonesia.

b. Kebudayaan Ngandong


Para ahli berhasil menemukan alat-alat dari tulang, flakes, alat penusuk dari tanduk rusa dan ujung tombak bergigi di daerah Ngandong dan Sidoarjo. Selain itu di dekat Sangiran ditemukan alat sangat kecil dari batuan yang indah. Alat ini dinamakan Serpih Bilah, dan banyak ditemukan di Cabbenge (Sulawesi Selatan) yang terbuat dari batu-batu indah seperti kalsedon. Kebudayaan Ngandong juga didukung oleh penemuan lukisan pada dinding goa seperti lukisan telapak tangan berwarna merah dan babi hutan ditemukan di Goa Leang Pattae (Sulawesi Selatan).

Sedangkan peralatan kebudayaan Ngandong, sebuah daerah di dekat kota Ngawi, Jawa Timur hampir sama dengan alat-alat dari kebudayaan Pacitan, tetapi di Ngandong banyak di temukan juga alat dari tulang-belulang hewan. Alat yang sama juga di temukan di daerah Sangiran (Jawa Tengah), Cabbenge (Sulawesi Selatan).





Sumber:


Komentar

Postingan Populer